![]() |
![]() |
![]() |
||||||||||||||
![]() |
![]() |
|||||||||||||||
|
[ artikel lain ... ]
22/04/2008 (22:24) ANALISA JABATAN Sejarah manusia mencatat lahirnya beragam manusia hebat karena keunikan bakat yang luar biasa. Di bidang olah raga terukir dengan tinta emas nama-nama seperti Muhamad Ali (tinju), Pele (sepakbola), Rudi Hartono (bulutangkis), Martina Navratilova (tenis), Anatoly Karpov (catur), dan masih banyak lainnya. Untuk bidang filsafat, sains dan teknologi, kita mengenal Socrates (filosof), Ibnu Shina (kedokteran), Charles Darwin (genetika), Albert Einstein (fisika), dan lain-lain. Pada dunia politik dan pemerintahan, orang-orang di seluruh dunia mencatat di dalam hati mereka nama-nama seperti Mahatma Gandhi, Soekarno, Nelson Mandela, Winston Churchil, Margareth Teacher, dan lain-lain. Belum lagi dunia hiburan yang memunculkan orang-orang hebat seperti Charlie Chaplin, Stevie Wonder, Diana Rose, Oprah Wimfrey, Bruce Lee, Gesang, Waljinah, dan lain-lainnya. Demikian pula dunia-dunia lainnya. Jika mau kita renungkan, apa sebenarnya yang membuat mereka bisa sampai pada prestasi dan eksistensi puncak ? Apakah karena mereka dilahirkan untuk menjadi hebat, atau karena mereka berproses dalam hidup agar menjadi hebat ? Tentu ada banyak versi jawaban yang bisa kita hadirkan. Kendati demikian, Anda barangkali sepakat dengan saya bahwa latar belakang kehebatan mereka terletak pada bakat yang terasah dengan sangat baik. Artinya, mereka mengetahui dengan baik bakat yang dianugerahkan Tuhan, dan dengan kemampuan diri sendiri maupun dengan bantuan orang lain, mereka mengasahnya terus-menerus tanpa kenal lelah. Lalu dengan cara apa kita bisa mengenali bakat kita dengan lebih akurat ? Jika selama ini orang hanya mengenali instrumen tes bakat dan potensi, maka sejak dua tahun yang lalu telah ditemukan metode baru yang sangat akurat yang dikenal dengan nama Dermatoglyphics Multiple Intelligence Assesment (DMI Assesment). Metode ini merupakan metode berbasis teknologi canggih (yakni Statistik dan Pemrograman Komputer) guna membaca ‘peta potensi diri’ melalui pola sidik jari (fingerprints) seseorang. Metode ini diilhami oleh temuan antropolog Francis Galton (1892) yang mengemukakan bahwa pola sidik jari seseorang itu unik dan tidak pernah berubah. Ia berhubungan dengan perkembangan syaraf dan potensi intelegensi seseorang. Temuan ini kemudian dipadukan dengan teori Multiple Intelligence-nya Howard Gardner dan teori Left-Right Brain-nya Roger W. Sperry. Karena pengetesan ini bersifat fisik (dengan memindai sidik jari), tidak melibatkan pikiran dan perasaan, maka hasilnya memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi. Output dari DMI Assesment ini berupa informasi yang sangat berharga bagi setiap pribadi. Pertama berkait dengan dominasi otak kita, apakah kiri atau kanan, berikut rekomendasi pengembangannya. Kedua, dominasi kecerdasan di antara 8 macam kecerdasan majemuk yang kita miliki, berikut rekomendasi proses pengoptimalannya. Dan ketiga, tentang work-management style serta pengembangan karir yang sebaiknya dilakukan dan dijalani seseorang. Di dalam dunia kerja, praktisi pengembangan SDM akan sangat terbantu dengan hasil tes DMI ini. Karena data dan informasi detail tentang SDM akan tersedia begitu lengkap, sehingga pendekatan Talent Based Human Resource Management dalam proses staffing dan carreer management akan dengan mudah diaplikasikan di dalam organisasi/perusahaan. Apakah Anda tertarik ? Silakan hubungi GIM HRD Training Centre,Jl Suryopranoto No 19,Telp (0274) 553 788,553 891,Pakualaman, |
|||||||||||||||
© 11-2007. GIM HRD Training Centre |
||||||||||||||||