![]() |
![]() |
![]() |
||||||||||||||
![]() |
![]() |
|||||||||||||||
|
[ artikel lain ... ]
21/08/2004 (02:34) ANAKKU HARAPANKU Oleh:
Drs. H. Dwiyono Iriyanto, MM
Bapak Ibu yang budiman, Tanpa kita sadari, ternyata perjalanan kita sebagai orangtua sudah cukup lama juga ya. Terbukti anak kita sudah akan meninggalkan bangku SMU, untuk selanjutnya menjelma menjadi mahasiswa. Tapi sepertinya kita masih sering merasa terus-menerus muda, padahal anak-anak kita sudah beranjak dewasa. Lihatlah mereka dengan seksama. Fisik mereka bahkan ada yang lebih besar daripada kita, meski kedewasaan berpikirnya masih perlu bimbingan kita. Lalu apa yang sebenarnya sudah kita siapkan bagi perjalanan hidup mereka ? Apakah kita telah memberi bekal yang cukup pada anak-anak kita untuk mengisi masa depannya ? Jangan-jangan apa yang kita anggap cukup, sebenarnya belum apa-apa bagi mereka, karena tantangan yang mereka hadapi jauh lebih hebat daripada yang pernah kita rasakan. Coba kita renungkan sebentar. Saat kita kecil, pesawat TV yang ada di rumah kita hanya bisa untuk melihat siaran TVRI saja, tidak lebih daripada itu. Sekarang ? Berbagai tayangan televisi, mulai dari yang benar-benar mendidik sampai dengan yang berpotensi merusak moral anak-anak, bisa begitu leluasa ditonton anak-anak kita. Saat kita kecil, berita-berita kriminal, seks, kekerasan, narkoba, dll masih terasa asing di telinga kita karena jarang bersentuhan dengan hal-hal seperti itu. Sekarang ? Berita-berita ‘sampah’ seperti itu bisa dengan mudah terjangkau anak-anak kita lewat sinetron, koran, tabloid, internet, dsb. Dengan demikian, tidak berlebihan kiranya jika ada sementara ahli psikologi anak yang mengatakan bahwa menjadi orangtua jaman sekarang rasanya benar-benar sulit, tetapi jauh lebih sulit menjadi remaja jaman sekarang. (Bagaimana menurut Bapak Ibu ?) Itulah sebabnya menjadi makin penting bagi kita para orangtua untuk mengetahui ‘dunia’ remaja masa kini, khususnya yang berkait dengan perkembangan kepribadian dan kemampuan yang harus mereka miliki. Karena tantangan jaman yang akan mereka hadapi berbeda, maka kematangan pribadi dan kemampuan mereka pun harus berbeda dengan kita. Apa yang akan saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu berikut ini adalah salah satu sisi dari ‘dunia’ remaja tadi. Ada sebuah penelitian yang dilakukan pada para remaja di berbagai belahan dunia, tentu saja termasuk negeri kita, yang menghasilkan kesimpulan sebagai berikut : terdapat 7 keutamaan remaja yang membuat mereka menjadi remaja hebat. Tujuh keutamaan tadi adalah : 1. Memiliki kemampuan unik/spesifik minimal dalam satu bidang 2. Memiliki kecerdasan emosi yang OK 3. Memiliki teman/sahabat yang bisa diandalkan 4. Bisa memanfaatkan kekuatan yang dimiliki secara positif 5. Tidak lari dari masalah-masalah hidup yang berat 6. Menemukan jati diri 7. Tidak melakukan hal-hal yang ekstrim. Lalu apa tugas kita sebagai orangtua ? (“Bantu dong kami agar berkemampuan seperti itu”, begitulah kira-kira suara anak-anak kita). Caranya ? Inilah yang akan kita diskusikan dan kita bagi bersama dalam forum ini. Untuk memiliki kemampuan unik/spesifik, anak-anak kita perlu mengetahui modal kecerdasan yang menonjol pada dirinya. Apakah mereka menonjol kecerdasan fisiknya seperti Ade Ray, kecerdasan musikalnya seperti Sheila on 7, kecerdasan bahasanya seperti Bung Karno, kecerdasan logis matematisnya seperti Habibie, kecerdasan intrapersonalnya seperti Edison, kecerdasan interpersonalnya seperti Kak Seto, kecerdasan spiritualnya seperti Aa Gym, kecerdasan visualnya seperti Basuki Abdullah, atau kecerdasan naturalisnya seperti para pejuang lingkungan hidup. Jika Bapak Ibu kesulitan untuk membantu mendeteksi modal-modal kecerdasan tadi, Bapak Ibu bisa konsultasi dengan para psikolog. Untuk memiliki kecerdasan emosi yang OK, anak-anak kita perlu dibantu dengan cara menjadikan diri kita sebagai orangtua ‘pelatih emosi’. Pertama-tama kita mesti mengakui bahwa emosi itu merupakan hal yang wajar. Selanjutnya kita perlu bantu anak-anak kita dengan memberi nama atas emosi yang sedang mereka rasakan. Dan akhirnya bantu mereka untuk menemukan solusi atas emosi-emosi yang cenderung merugikan diri mereka. Saat mereka sedang mengalami kesulitan atau dilanda stress, seperti hari-hari ini karena memikirkan UAN, Bapak Ibu perlu memerankan diri lebih sebagai teman/sahabat daripada sebagai orangtua. Dalam peran seperti ini, kemampuan kita untuk mendengar dan mengerti masalah dan kesulitan anak perlu lebih dikedepankan. Cobalah untuk tidak memotong pembicaraan anak ketika mereka sedang curhat. Kesabaran untuk ‘menikmati’ keluh kesah anak menjadi kunci utama sebagai pendengar dan sahabat yang baik. Dengan tampilan Bapak Ibu yang seperti ini, anak-anak kita akan merasa bahwa kita adalah teman/sahabat yang bisa mereka andalkan untuk memecahkan berbagai persoalan. Bapak Ibu yang budiman, Mewujudkan ciri keempat remaja hebat, yakni mampu memanfaatkan kekuatan diri secara positif, bisa kita lakukan dengan menjadi contoh bagi mereka. Ceritakan kepada anak apa saja aktivitas Bapak dan Ibu ketika masih sekolah maupun saat ini. Mengapa Anda sering menjadi ketua organisasi, mengapa Anda sering diminta menjadi MC, mengapa Anda menjadi seorang pemain sepakbola, dll. ‘Cerita sukses’ Bapak dan Ibu, walau kedengaran biasa-biasa saja, akan sangat mensugesti anak-anak untuk meneladaninya. Dalam upaya meneguhkan mental anak untuk tetap tegar saat menghadapi berbagai kesulitan hidup, kita bisa meyakinkan mereka bahwa sesulit apa pun masalah yang kita hadapi, pasti ada jalan keluarnya. Ingat, Tuhan tidak akan membebani umatnya dengan masalah yang melebihi kemampuannya. Lagipula, saat semua hal yang ada di dunia ini mengalami perubahan, salah satu hal yang tidak berubah adalah “selalu ada pilihan” bagi kita manusia. (Silakan Bapak Ibu renungkan kebenarannya) Dua cirri yang terakhir, masing-masing bisa kita tempuh dengan cara berikut. Untuk upaya menemukan jati diri, Bapak Ibu bisa membantunya dengan menerima apa adanya kelebihan dan kekurangan anak. Jika nilai Matematikanya jelek, tetapi kemampuan melukisnya bagus, Bapak Ibu tidak usah mati-matian membuat ia jadi jagoan matematika. Jika tangan kirinya lebih banyak ia gunakan, kita tidak perlu menganggapnya sebagai ‘menderita kelainan’. Begitulah kira-kira contoh menerima anak kita apa adanya. Sedang ikhtiar yang perlu kita lakukan agar anak kita tidak terbiasa melakukan tindakan-tindakan ekstrim, mesti diawali dengan mengembangkan sikap empati kepada anak. Kita tidak boleh menganggap remeh atau enteng persoalan-persoalan yang dihadapi anak-anak kita. Jika persoalan-persoalan kecil mampu kita akomodir, insyaAllah tidak akan berkembang menjadi persoalan besar yang berpotensi memotivasi seseorang untuk bertindak ekstrim. Inilah Bapak Ibu secuil bahan renungan yang bisa kita diskusikan bersama berkait dengan perjuangan anak-anak kita dalam menghadapi Ujian Akhir Nasional. Ujian ini memang bukan menjadi satu-satunya sarana seseorang meraih sukses, tetapi kecemasan yang dirasakan anak-anak kita patut untuk kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Dengan perhatian dan bantuan yang Bapak Ibu berikan, wajarlah jika Bapak Ibu berharap bahwa anak-anak akan benar-benar menjadi harapan di hari esok. Semoga ketulusan Bapak Ibu dalam mendampingi dan mendewasakan anak-anak bisa mengantarkan Anda menjadi orangtua idaman. Amin. Jogja, 28 Maret 2004 |
|||||||||||||||
© 11-2007. GIM HRD Training Centre |
||||||||||||||||